Kamis, 22 Desember 2011

Prinsip-prinsip layanan anak berkebutuhan khusus

1.      Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.
Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu,tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat.
Banyak istilah yang dipergunakan sebagai variasi dari kebutuhan khusus, seperti disability, impairment, danHandicap. Menurut World Health Organization (WHO), definisi masing-masing istilah adalah sebagai berikut:
1.      Disability : keterbatasan atau kurangnya kemampuan (yang dihasilkan dari impairment) untuk menampilkan aktivitas sesuai dengan aturannya atau masih dalam batas normal, biasanya digunakan dalam level individu.
2.      Impairment: kehilangan atau ketidaknormalan dalam hal psikologis, atau struktur anatomi atau fungsinya, biasanya digunakan pada level organ.
3.      Handicap : Ketidak beruntungan individu yang dihasilkan dariimpairment atau disability yang membatasi atau menghambat pemenuhan peran yang normal pada individu.
 Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.






2.       Anggota-Anggota Tim Terkait Dalam Layanan Pendidikan Khusus

Dalam hal layanan pendidikan khusus tidak hanya faktor kebijakan saja yang menentukan tetapi juga tim work yang mendukung, berikut ini adalah komponen tim work :
    1. Guru pendidikan khusus adalah mereka yang memberikan pembelajaran sehari-hari dan dukungan lain bagi siswa berkebutuhan khusus.
    2. Billingual special educator adalah guru yang memiliki pengetahuan baik di bidang dwi bahasa maupun pendidikan khusus.
    3. Early childhood special educator adalah mereka yang memberikan pelayanan pada balita, mereka dapat bekerja sama dengan guru-guru pre sekolah dalam hal pendidikan umum.
    4. speech/ language pathologist adalah mereka yang mendiagnosis anak-anak berkebutuhan, mendesain tindakan dan layanan yang tepat serta memonitor kemajuannya.
    5. School psychologist adalah mereka yang memiliki kompetensi untuk menentukan kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus.
    6. School counselor adalah mereka yang menangani bukan saja siswa biasa tetapi juga siswa dengan kebutuhan khusus, pada sekolah regular.
    7. school social worker adalah mereka yang meng koordinasika usaha-usaha pendidik, keluarga dan orang-orag lembaga terkait untuk memastikan bahwa siswa dapat menerima semua pelayanan yang mereka  butuhkan.
    8. School  Nurse adalah mereka yang bertanggung jawab dalam memeriksa dan menjaga kesehatan siswa, serta mengatur distribusi obat-obatan yang dibutuhkan siswa.
    9. Educational interpreter adalah mereka yang membantu siswa yang mengalami kesulitan mendengar dengan menggunakan bahasa isyarat.
    10. General educational teacher adalah guru pada kelas regular yang memiliki kemampuan untuk untuk memeberikan pelayanan bagi anak berkebutuhan khusus.
    11. Pareducator adalah para profesinal yang bekerja di bawah arahan guru atau professional dalam memberikan pelayanan bagi siswa berkebutuhan khusus.
    12. Parents yaitu orang tua siswa yang memberikan kontribusi terhadap sekolah mengenai perkembangan serta kehidupn anaknya di luar sekolah.
    13. Additional High Specialized Service Provider adalah mereka yang memiliki keahlian spesifik di bidang tertentu guna menangani siswa yang membutuhkan pelayanan khusus secara unik.


3.      Prinsip Dasar layanan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
   Beberapa prinsip dasar dalam layanan anak berkebutuhan khusus pada umumnya yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan. Prinsip dasar tersebut menurut musjafak Assjari (1995) adalah sebagai berikut:
a.      Keseluruhan anak (all the chilldren )
Layanan pendidikan pada anak berkebutuhan khusus harus didasarkan pada pemberian kesempatan pada seluruh anak berkebutuhan khusus dari berbagai derajat, ragam, dan bentuk kecacatan yang ada. Dengan layanan pendidikan diharapkan anak dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya seoptimal mungkin, sehingga ia dapat mencapai hidup bahagia sesuai dengan kecacatannya. Oleh karena itu guru harus kreatif. Guru dituntut mencari berbagai pendekatan pembelajaran yang cocok bagi anak. Pendekatan tersebut harus disesuaiakan dengan keunikan dan karakteristik dari masing – masing kecatatan.
b.      Kenyataan (reality)
Pengungkapan tentang kemampuan fisik dan psikologis pada masing – masing anak berkebutuhan khusus mutlak dilakukan. Hal ini penting, mengingat melalui tahapan tersebut pelaksanaan pendidikan maupun pelaksanaan rehabilitasi dapat memberikan layanan yang sesuai dengan kemampuan yang dimilki oleh masing – masing anak berkebutuhan khusus. Dasar pendidikan yang menempatkan pada kemampuan masing – masing anak tunadaksa inilah yang dimaknai sebagai dasr yang berlandaskan pada kenyataan.
c.       Program yang dinamis (a dynamic program)
Pendidikan pada dasarnya bersifat dinamis. Pendidikan dikatakan dinamis karena yang menjadi subjek pendidika adalah manusia yang sedang tumbuh dan berkembang, yang di dalamnya terdapat proses yang bergradasi, berkesinambungan untuk mencapai sasaran pendidikan. Dinamika dlam proses pendidikan terjadi karena subjek didinya selalu berkembang, sehingga penyesuaian layanan harus memperhatikan perkembangan yang terjadi pada subjek didik. Dinamika juga terjadi karena perkembangan ilmu pengetahuan. Kedua kenyataan ini menuntut guru untuk mengkaji teori – teori pendidikan yang berkembang setiap saat. Memperhatikan kedua dinamika tersebut layanan pendidikan seharusnya memperhtikan karakteristik yang cukup hetergen pada anak dengan segala dinamikanya.


d.      Kesempatan yang sama (equality of opportunity)
Pada dasarnya anak berkebutuhan khusus diberi kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensinya tanpa memprioritaskan jenis – jenis kecacatan yang dialaminya. Titik perhatian yang utama pada anak berkebutuhan khusus adalah optimalisasi potensi yang dimiliki masing – masing anak melalui jenjang pendidikan yang ditempuhnya. Hal – hal yang besifat teknis berkaitan dengan sarana dan prasarana sekolah disesuiakan dengan kenyataan yang ada. Kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan menuntut penyelenggara pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus untuk menyediakan dan mengusahakan sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan kebutuhan anak dan variasi kecacatannya.
e.       Kerjasama (cooperative)
Pendidikan pada anak berkebutuhan khusus tidak akan berhasil mengembangkan potensi merekajika tidak melibatkan pihak – pihak yang terkait. Beberapa pihak terkait yang paling utama dalah orang tua. Orang tua anak berkebutuhan khusus perlu dilibatkan dalam merancang dan melaksanakan program pendidikan. Selain orang tua pihak lain.
Selain prinsip umum tersebut diatas, ada prinsip lain yang juga perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Prinsip – prinsip yang dimaksud ialah :
a.       Prinsip Kasih Sayang
Sebagai manusia, anak berkebutuhan khusus membutuhkan kasih sayang bukan belas kasihan.
Kasih sayang yang dimaksudkan merupakan wujud penghargaan bahwa sebagai manusia mereka memiliki kebutuhan untuk diterima dalam kelompok dan diakui bahwa mereka adalah sama seperti anak-anak yang lainnya. Untuk itu, guru sudah seharusnya mampu menggantikan kedudukan orangtua untuk memberikan perasaan kasih sayang kepada anak. Wujud pemberian kasih sayang dapat berupa sapaan, pemberian tugas sesuai dengan kemampuan anak, menghargai dan mengakui keberadaan anak.
b.      Prinsip keperagaan
Anak berkebutuhan khusus ada yang memiliki kecerdasan dibawah rata-rata. Keadaan ini berakibat anak mengalami kesulitan dalam menangkap informasi, ia memiliki keterbatasan daya tangkap pada hal-hal yang kongkret , ia mengalami kesulitan dalam menangkap hal-hal yang abstrak. Untuk itu, guru dalam membelajarkan anak hendaknya menggunakan alat peraga yang memadai agar anak terbantu dalam menangkap pesan. Alat-alat peraga hendaknya disesuaikan dengan bahan, suasana, dan perkembangan anak.
c.       Keterpaduan dan keserasian antar ranah
Dalam proses pembelajaran, ranah kognitif sering memperoleh sentuhan yang ebih banyak, sementara ranah afeksi dan psikomotor kadang terlupakan. Akibat yang terjadi dalam proses pembelajaran seperti ini terjadi kepincangan dan ketidak utuhan dalam memperoleh makna dari apa yang dipelajari. Keterpaduan dan keserasian antar ranah yang dirancang dan dikembangkan secara komprehensif oleh guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran mendorong terbentuknya kepribadian yang utuh pada diri anak. Untuk itu seyogyanya menciptakan media yang tepat untuk mengembangkan ketiga ranah tersebut.
d.      Pengembangan minat dan bakat
Proses pembelajaran pada anak berkebutuhan khusus pada dasarnya mengembangkan bakat dan minat mereka. Minat dan bakat masing-masing subyek didik mereka, baik dalam kuantitas maupun kualitasnya. Tugas guru dan orangtua adalah mengembangkan minat dan bakat yang terdapat pada diri anak masing-masing. Hal ini dilakukan karena minat dan bakat seseorang memberikan sumbangan dalam pencapaian keberhasilan. Oleh karena itu proses pembelajaran pada anak berkebutuhan khusus hendaknya didasarkan pada minat dan bakat yang mereka miliki.
e.       Kemampuan anak
Heterogenitas mewarnai kelas-kelas pendidikan pada anak berkebutuhan khusus, akibatnya masing-masing subyek didik perlu memperoleh perhatian dan layanan yang sesuai dengan kemampuannya.
f.       Model
Guru merupakan model bagi subyek didiknya. Perilaku guru akan ditiru oleh anak didiknya. Oleh karena itu guru perlu merancang secermat mungkin pembelajaran agar model yang ditampilkannya oleh guru dapat ditiru oleh anak.
g.      Pembiasaan
Penanaman pembiasaan pada anak normal lebih mudah bila dibarengi dengan informasi pendukungnya. Hal ini tidak mudah bagi anak berkebutuhan khusus. Pembiasaan pada anak berkebutuhan khusus harus dilakukan secara berulang-ulang dan diiringi dengan contoh kongkret.
h.      Latihan
Latihan merupakan cara yang sering ditempuh dalam pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Latihan sering dilakukan bersamaan dengan pembentukan pembiasaan.
i.        Pengulangan
Karakteristik umum anak berkebutuhan khusus adalah mudah lupa. Oleh karana itu, pengulangan dalam memberikan informasi perlu memperoleh perhatian tersendiri.
j.        Penguatan
Penguatan atau reinforcement merupakan tuntutan untuk membentuk perilaku pada anak. Pemberian penguatan yang tepat berupa pujian atau penghargaan yang lain terhadap munculnya perilaku yang dikehendaki anak akan membantu terbentuknya perilaku.


Selain prinsip umum, ada beberapa prinsip khusus yang perlu diperhatikan dalam layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Prinsip khusus tersebut berkaitan erat dengan kecacatan yang dialami anak. Prinsip khusus yang berkaitan dengan layanan pendidikan anak tunanetra menurut Annastasia Widjajanti dan Imanuel Hitipeuw (1995) adalah :
a.      Prisip totalitas
Prinsip totalitas berarti prisip keseluruhan atau keutuhan. Dalam prinsip ini guru mengajar harus secara keseluruhan atau utuh. Keseluruhan dimaksudkan bahwa dalam mengajarkan konsep sedapat mungkin melibatkan keseluruhan indera, sedangkan keutuhan dimaksudkan bahwa konsep yang dikenalkan harus utuh, tidak sepotong – potong. Misalnya, menjelaskan “tomat”, guru tidak hanya mengenalkan model tomat , tetapi juga harus menunjukkan tomat yang asli, anak disuruh meraba bentuk – bentuk tomat, mencium bau tomat, merasakan tomat, bahkan melengkapinya dengan pohon tomat.
b.      Prinsip Keperagaan
Prinsip keperagaan sangan dibutuhkan untuk menjelaskan konsep baru pada anak tunanetra. Prinsip keperagaan berkaitan erat dengan tipe belajar anak. Ada anak yang mudah menerima konsep melalui indera perabaan, ada anak yang mudah dengan indera pendengaran. Dengan peragaan anak akan terhindar dari verbalisme. Misalnya, guru menerangkan perbedaan antara apel dan tomat. Guru harus membawa kedua jenis buah tersebut. Anak harus dapat membedakan keduanya dari segi teksture (kasar halus, keras lembut), berat, rasa, dan baunya. Contoh lain misalnya guru menerangkan nyamuk , untuk suara mungkin dapat langsung, tetapi untuk bentuk guru harus mencari spesimen nyamuk, yang besarnya ratusan kali dari nyamuk yang sebenarnya.
c.       Prinsip Kesinambungan
Prinsip kesinambungan sangat dibutuhkan anak tunanetra dalam mempelajari konsep. Mata pelajaran yang satu harus berhubungan dengan mata pelajaran yang lain. Kesinambungan tersebut dalam hal materi dan istilah yang digunakan guru. Istilah yang digunakan sebaiknya tidak terlalu banyak variasi.
d.       Prinsip Aktivitas
Prinsip aktivitas penting artinya dalam kegiatan belajar anak. Murid dapat memberikan respon terhadap stimulus yang diberikan guru. Reaksi ini dilaksanakan dalam bentuk mengamati sendiri dengan bekerja sendiri. Anak tunanetra diharapkan aktif dan tidak hanya mendengarkan. Tanpa aktivitas , konsep yang diterima anak hanya sedikit dan mereka akan merasa jenuh. Jika anak aktif dalam pembelajaran, maka pengalaman mereka akan banyak, memperoleh kepuasan dalam belajar sehingga akan mendorong rasa ingin tahu yang tinngi.
e.       Prinsip individual
Prinsip individual dalam pembelajaran berarti pengajaran dilakukan dengan memperhatikan perbedaan individu, potensi anak, bakat dan kemampuan masing – masing anak. Prinsip ini merupakan ciri khusus dalam layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Bagi anak tunanetra, prinsip induvidual mendorong guru untuk memenuhi tuntutan variasi ketunaan dan kemampuan anak. Guru dituntut sabar, telaten, ulet dan kreatif. Guru harus mengajar satu per satu sesuai dengan perbedaan anak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar