Kamis, 29 Desember 2011

MEMBANTU SAUDARA = MEMBANTU DIRI SENDIRI

Assalamualaikum, Sahabat..
Pada saat kita membantu saudara kita, sesungguhnya dia sedang membantu dirinya sendiri..

Karena dalam sebuah hadits disebutkan:
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitann niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga. Suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitab- kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya”.
(Muttafaq ‘alaih).

Saudaraku.. mari bantu diri kita dari kesulitan-kesulitan hari akhiratl dengan membantu saudara-sauidara kita di dunia dan dengan menghadiri majlis ilmu dan Quran.
Assalamualaikum, semoga bermanfaat sahabat! ^_^

Rabu, 28 Desember 2011

Menuju pernikahan Barokah ^_^


Assalamualaikum, disini kita bahas tentang pernikahan barokah yuuu ^_^

Pernikahan merupakan pertemuan antara akal dan hati. Pernikahan menyatukan dua insan dari jenis yang berbeda, untuk saling melengkapi, menyayangi, dan saling mendukung untuk terus menunaikan syariat Allah. Pernikahan itu indah, namun ternyata tak semua pasangan dapat mempertahankan keindahannya. Ketakmampuan dalam menghadapi prahara dan pelik rumah tangga, sering membuat mereka terjerembab dalam kekecewaan. Akhirnya, fenomena yang terikat indah di awal, harus terputus dengan tragis.
Pengetahuan tentang pernikahan, tak dapat disangkal menjadi pengetahuan yang amat penting untuk dimiliki oleh setiap manusia dewasa yang akan, maupun sudah siap untuk menikah. Mahasiswa terutama, biasanya telah memiliki planning untuk membangun rumah tangga pada suatu masa di kehidupannya.

Mengapa menikah itu penting?
Beberapa keutamaan menikah, antara lain:
1. Menyempurnakan setengah din/agama
2. Menjaga kehormatan diri
Dalam suatu hadits dinyatakan bahwa ada 3 kelompok manusia yang pasti akan ditolong oleh Allah, yaitu:
1. Budak yang ingin membebaskan diri dari majikannya, misal dengan menabung untuk membeli harga dirinya
2. Orang yang menikah untuk menjaga kehormatan diri
3. Orang yang berjihad di jalan Allah
Menikah, menjadi suatu hal yang dianjurkan jika seorang manusia (laki-laki terutama) telah memiliki penghasilan yang cukup, atau dirinya telah mampu untuk (maaf) berhubungan seksual. Namun, dalam kajian yang lebih dalam, ternyata para ulama lebih mengutamakan sebab yang pertama. Yaitu, jika seseorang telah memiliki maisyah (penghasilan).
Ada beberapa tuntunan dalam menetapkan kriteria seorang pendamping, demi terwujudnya keluarga yang tenteram. yakni :
1. Shalih/shalihah
Karena pasangan yang demikian, akan mampu menghadapi fluktuasi kondisi rumah tangga. Banyak pasangan yang bahagia ketika dalam kondisi lapang, namun ketika masalah menghimpit, mereka tidak kuat dan akhirnya ‘lari’ dari tanggungjawab. Pasangan yang shalih/shalihah, memiliki iman yang kuat sehingga mereka memiliki komitmen yang kokoh untuk memperjuangkan ketaqwaan kepada Allah swt.
Seseorang yang shalih itu harus dilihat dari 2 aspek, yaitu agama dan akhlaq. Tak hanya sekadar tulisan di KTP, ataupun baju koko dan celana komprang. Bahkan tanda sujud di jidat pun belum menjamin akhlaq seseorang itu sama baiknya dengan penampilannya. Akhlaq, bisa kita lihat dari perilakunya, tutur kata, tingkahlakunya dalam memperlakukan anak kecil, dsb.
Keutamaan lain adalah: seorang yang shalih, akan senantiasa takut kepada Allah swt. Sehingga ketika ia lalu mencintai pasangannya, ia akan memuliakannya. Namun ketika ternyata tidak tumbuh cinta, maka ia tidak akan mendholiminya.
2. Sekufu/selevel
Satu hal penting yang harus dimiliki oleh pasangan adalah jalinan komunikasi yang baik. Dengan komunikasi yang baik, pasangan akan saling merasa nyaman, dan tidak merasa sungkan untuk membicarakan masalah rumah tangga. Yang dimaksud sekufu, bisa dalam bidang:
a. Pemahaman agama.
b. Latar belakang pendidikan
c. Latar belakang keluarga
d. Usia
Jika akan memutuskan untuk menikah dengan pasangan yang memiliki perbedaan latar belakang, misal kaya dengan miskin, lulusan S2 dengan lulusan SMP, maka orang tsb harus siap untuk menghadapi perbedaan watak/kebiasaan pasangan. Anak seorang pejabat takkan bisa meniru pekerjaan tukang cuci, anak buruh tani takkan bisa seluwes anak konglomerat dalam bergaya/berperilaku, dsb.
Yang penting, usahakan untuk memilih pasangan yang PAS. Tak harus kaya, tak harus cantik/ganteng, tak harus lulusan doktor, cukup dia mudah untuk diajak diskusi, satu visi, dan semuanya pun akan baik-baik saja :)
3. Kalau bisa, rupawan
Rupawan (cantik/ganteng) adalah menurut versi masing-masing orang. Meski bukan syarat utama, namun menikahi orang yang rupawan akan memberi dampak positif bagi keharmonisan rumah tangga.
Namun demikian, seorang pria makruh untuk menikahi wanita yang terlalu cantik, bila imannya kurang. Hal ini disebabkan, biasanya wanita dengan tipe demikian akan sering:
a. Meremehkan suami. Terutama jika sang suami memiliki (maaf) wajah yang lebih tidak rupawan dibanding sang istri.
b. Menjadi pusat perhatian. Bagi tipe suami pencemburu, hal ini akan sangat menyiksa dirinya.
Kriteria Calon Istri
Tidak banyak koq, antara lain :
1. Gadis atau janda
Lebih disarankan menikahi gadis yang masih masih perawan (meski tak ada salahnya jika ingin menikahi janda). Karena:
a. Gadis perawan itu lebih manis mulutnya
b. Gadis perawan memiliki kesempatan/kemampuan yang lebih dalam menghasilkan keturunan
c. Gadis perawan akan lebih ridha jika mendapat bagian yang sedikit, daripada janda. Mengapa demikian? Karena, jika anda sebagai suami kedua tidak memberikan pelayananan yang lebih baik dari suami pertama, maka sang istri janda akan selalu membandingkan Anda, dan biasanya akan sering protes.
Jadi, kalau Anda berniat menikahi seorang janda, pastikan anda akan mampu memberi yang lebih baik dari suami pertamanya :)
2. Subur dan Penyayang
Kriteria subur masih terhubung dengan kriteria yang pertama di atas. Penyayang, merupakan watak yang penting. Karena dia yang akan mendidik anak-anak, menjadi ibu bagi mereka.

Seorang suami yang baik, tidak akan memilih wanita untuk dirinya sendiri. Namun, dia akan memilih wanita untuk dijadikan ibu bagi anak-anaknya.
Kriteria Suami
Hanya satu. yaitu QAWWAM, alias bertanggungjawab. Tegas dalam mengambil keputusan, mampu menjadi rujukan bagi istri dan anak-anaknya, dan senantiasa siap mengambil resiko.
Namun, jangan disamaartikan dengan diktator. Terkadang perlu juga mendengarkan saran istri, sebaliknya istri pun takkan senang jika sang suami tidak tegas dalam mengambil keputusan. Dikit-dikit, terserah Ummi aja deh…  Wanita itu, pada saat-saat tertentu akan senang jika ia ‘dipilihkan’ oleh sang suami.. :)
Bagaimana Cara Mendapatkannya?
Upaya standar sih..
1. Berdo’a
Tidak harus memaksakan diri untuk segera mendapatkan jodoh. Sejatinya, menikah itu adalah untuk mendapatkan ketentraman hidup dan untuk mendapatkan ladang amal yang luas. tidak hanya sekadar untuk mendapatkan pasangan lawan jenis.
Menunggu itu tidak masalah koq. Meski juga bukan berarti pasrah. Kalau dengan menunggu kita mendapatkan pasangan yang PAS, kenapa tidak? Tapi tetap harus ikhtiar..
2. Wasilah terpercaya
Wasilah yaitu perantara. Dalam upaya untuk mengetahui karakter calon pasangan, seseorang dapat mengirimkan kerabat dekat untuk menanyai tentang kepribadiannya, atau sekadar mengajaknya ngobrol untuk mengetahui tabiatnya. Ga level banget deh, kita mencari calon istri/suami lewat biro jodoh, atau bahkan reality show yang sarat tabarruj.
3. Keluarga
4. Menawarkan diri
Bukan sesuatu yang memalukan, jika ini dilakukan oleh akhwat kepada ikhwan yang mampu menjamin kerahasiaannya. Tapi memang jarang sih.. dan biasanya akhwat yang menawarkan dirinya ini memiliki sesuatu yang lebih, yang layak baginya untuk ditawarkan kepada calon suami.
Yang lebih utama dari poin-poin di atas, adalah MEMPERBAIKI DIRI.
Kalau mau mendapatkan suami/istri shalih shalihah, ya konsekuensinya harus menjadi pribadi yang shalih.shalihah dulu.

Sesungguhnya wanita-wanita yang baik adalah untuk pria yang baik, dan wanita-wanita yang keji adalah untuk pria yang keji
Tindak Lanjut???
1. Ta’aruf
Atau perkenalan. Dengan ketentuan-ketentuan tertentu.
Ketika melakukan ta’aruf, harus menyertakan pihak ketiga. Biasanya, masing-masing calon mempelai mengajak satu orang yang juga berperan sebagai perantara.
Dalam proses ta’aruf, ada satu fenomena yang disebut nadzar, atau melihat. Si pria boleh melihat wajah si wanita, begitu pula sebaliknya. Keduanya boleh saling menanyakan perihal latar belakang masing-masing, biasanya juga dengan meminta bantuan sang perantara.
Nadzar menjadi suatu hal yang penting, karena dengan nadzar kita bisa memastikan wajah calon pasangan. Jika menemukan sesuatu yang disukai pada calon pasangan saat ber-nadzar itu, maka hal tsb sudah cukup dijadikan alasan untuk memilihnya.
2. Istikharah
Biasanya dilakukan oleh pihak wanita. Setelah proses ta’aruf dilaksanakan, si wanita harus memutuskan apakah ia akan melanjutkan ke tahap berikutnya atau tidak. Jadi, di sini baik pihak wanita maupun pria memiliki otoritas masing-masing. Pria berhak memilihh wanita mana yang akan di-ta’aruf-inya, namun keputusan final tetap dipegang oleh pihak wanita.
3. Khitbah
Setelah calon pasangan wanita memutuskan untuk lanjut, si pria (biasanya dengan mengajak keluarganya) mendatangi di wanita untuk meng-khitbahnya. Di sini bisa ditentukan masalah pelaksanaan walimahan atau pernikahan.
4. Walimah
Ada beberapa adab dalam menyelenggarakan pesta walimah, yaitu:
a. Sederhana
b. Mengundang orang shalih
c. Mengundang orang miskin juga
Beberapa Hal yang Harus Dihindari dalam Menyelenggarakan Pesta Pernikahan (Walimah)
1. Ikhtilath, yaitu bercampurnya kaum pria dan wanita. Bisa disiasati dengan pengaturan tempat duduk, diberikan batas yang jelas antara ikhwan-akhwat, dsb
2. Membuka aurat
Busana yang dikenakan, baik oleh pengantin maupun kerabatnya haruslah menutupi aurat. Usahakan tidak tipis, dan tidak menerawang
3. Bertabarruj (berlebihan dalam berhias)
4. Memperdengarkan musik jahiliyah
5. Israaf dan Tabdzir

Segini dulu aja yaa, semoga bermanfaat buat kita semua.
Assalamualaikum ^_^

4 hal termasuk simpanan sorga

Orang-orang Salaf yang shalih dari umat kita pernah berkata. "Empat hal termasuk
simpanan sorga, yaitu

1. menyembunyikan musibah,
2. menyembunyikan (merahasiakan) shadaqah,
3. menyembunyikan kelebihan dan
4. menyembunyikan sakit".

Dalam suatu kisah diceritakan, perkataan Ibnu Abdi Rabbah Al-Andalusy : "Asy-Syaibany pernah berkata. 'Temanku pernah memberitahukan kepadaku seraya berkata. 'Syuraih mendengar tatkala aku mengeluhkan kesedihanku kepada seorang teman.
Maka dia memegang tanganku seraya berkata. 'Wahai anak saudaraku, janganlah engkau mengeluh kepada selain Allah. Karena orang yang engkau keluhi itu tidak lepas dari kedudukannya sebagai teman atau lawan.
Kalau dia seorang teman, berarti dia berduka dan tidak bisa memberimu manfaat.
Kalau dia seorang lawan, maka dia akan bergembira karena deritamu.

(Saudaraku) Lihatlah salah satu mataku ini, 'sambil menunjuk ke arah matanya', demi Allah, dengan mata ini aku tidak pernah bisa melihat seorangpun, tidak pula teman sejak lima tahun yang lalu.
Namun aku tidak pernah memberitahukannya kepada seseorang hingga detik ini. Tidakkah engkau mendengar perkataan seorang hamba yang shalih (Yusuf) : "Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku". Maka jadikanlah Allah sebagai tempatmu mengadu tatkala ada musibah yang menimpamu. Sesungguhnya Dia adalah penanggung jawab yang paling mulia dan yang paling dekat untuk dimintai do'a". (Al-Aqdud-Farid, 2/282)

Selasa, 27 Desember 2011

Manfaat jilbab menurut islam dan sains :)

‎"Manfaat Jilbab Menurut Islam dan Sains"

Allah memerintahkan sesuatu pasti ada manfaatnya untuk kebaikan manusia. Dan setiap yang benar-benar manfaat dan dibutuhkan manusia dalam kehidupannya, pasti disyariatkan atau diperintahkan oleh-Nya. Di antara perintah Allah itu adalah berjilbab bagi wanita muslimah. Berikut ini beberapa manfaat berjilbab menurut Islam dan ilmu pengetahuan.

1. Selamat dari adzab Allah (adzab neraka)

“Ada dua macam penghuni Neraka yang tak pernah kulihat sebelumnya; sekelompok laki-laki yang memegang cemeti laksana ekor sapi, mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, sesat dan menyesatkan, yang dikepala mereka ada sesuatu mirip punuk unta. Mereka (wanita-wanita seperti ini) tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Sedangkan bau surga itu tercium dari jarak yang jauh” (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang” ialah mereka yang menutup sebagian tubuhnya dan menampakkan sebagian lainnya dengan maksud menunjukkan kecantikannya.

“Wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang” ialah mereka yang menutup sebagian tubuhnya dan menampakkan sebagian lainnya dengan maksud menunjukkan kecantikannya.

2. Terhindar dari pelecehan

Banyaknya pelecehan seksual terhadap kaum wanita adalah akibat tingkah laku mereka sendiri. Karena wanita merupakan fitnah (godaan) terbesar. Sebagaiman sabda Nabi Muhammad shallallahu �alaihi wasallam, 

“Sepeninggalku tak ada fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhari)

Jikalau wanita pada jaman Rasul merupakan fitnah terbesar bagi laki-laki padahal wanita pada jaman ini konsisten terhadap jilbab mereka dan tak banyak lelaki jahat saat itu, maka bagaimana wanita pada jaman sekarang??? Tentunya akan menjadi target pelecehan. Hal ini telah terbukti dengan tingginya pelecehan di negara-negara Eropa (wanitanya tidak berjilbab).

3. Memelihara kecemburuan laki-laki

Sifat cemburu adalah sifat yang telah Allah subhanahu wata�ala tanamkan kepada hati laki-laki agar lebih menjaga harga diri wanita yang menjadi mahramnya. Cemburu merupakan sifat terpuji dalam Islam.

“Allah itu cemburu dan orang beriman juga cemburu. Kecemburuan Allah adalah apabila seorang mukmin menghampiri apa yang diharamkan-Nya.” (HR. Muslim)

Bila jilbab ditanggalkan, rasa cemburu laki-laki akan hilang. Sehingga jika terjadi pelecehan tidak ada yang akan membela.

4. Akan seperti biadadari surga

“Dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang menundukkan pandangannya, mereka tak pernah disentuh seorang manusia atau jin pun sebelumnya.” (QS. Ar-Rahman: 56)

“Mereka laksana permata yakut dan marjan.” (QS. Ar-Rahman: 58)

“Mereka laksan telur yang tersimpan rapi.” (QS. Ash-Shaffaat: 49)

Dengan berjilbab, wanita akan memiliki sifat seperti bidadari surga. Yaitu menundukkan pandangan, tak pernah disentuh oleh yang bukan mahramnya, yang senantiasa dirumah untuk menjaga kehormatan diri. Wanita inilah merupakan perhiasan yang amatlah berharga.

Dengan berjilbab, wanita akan memiliki sifat seperti bidadari surga.

5. Mencegah penyakit kanker kulit

Kanker adalah sekumpulan penyakit yang menyebabkan sebagian sel tubuh berubah sifatnya. Kanker kulit adalah tumor-tumor yang terbentuk akibat kekacauan dalam sel yang disebabkan oleh penyinaran, zat-zat kimia, dan sebagainya.

Penelitian menunjukkan kanker kulit biasanya disebabkan oleh sinar Ultra Violet (UV) yang menyinari wajah, leher, tangan, dan kaki. Kanker ini banyak menyerang orang berkulit putih, sebab kulit putih lebih mudah terbakar matahari.

Kanker tidaklah membeda-bedakan antara laki-laki dan wanita. Hanya saja, wanita memiliki daya tahan tubuh lebih rendah daripada laki-laki. Oleh karena itu, wanita lebih mudah terserang penyakit khususnya kanker kulit.

Oleh karena itu, cara untuk melindungi tubuh dari kanker kulit adalah dengan menutupi kulit. Salah satunya dengan berjilbab. Karena dengan berjilbab, kita melindungi kulit kita dari sinar UV. Melindungi tubuh bukan dengan memakai kerudung gaul dan baju ketat. Kenapa? Karena hal itu percuma saja. Karena sinar UV masih bisa menembus pakaian yang ketat apalagi pakaian transparan. Berjilbab disini haruslah sesuai kriteria jilbab.

6. Memperlambat gejala penuaan

Penuaan adalah proses alamiah yang sudah pasti dialami oleh semua orang yaitu lambatnya proses pertumbuhan dan pembelahan sel-sel dalam tubuh. Gejala-gejala penuaan antara lain adalah rambut memutih, kulit keriput, dan lain-lain.

Penyebab utama gejala penuaan adalah sinar matahari. Sinar matahari memang penting bagi pembentukan vitamin D yang berperan penting terhadap kesehatan kulit. Namun, secara ilmiah dapat dijelaskan bahwa sinar matahari merangsang melanosit (sel-sel melanin) untuk mengeluarkan melanin, akibatnya rusaklah jaringan kolagen dan elastin. Jaringan kolagen dan elastin berperan penting dalam menjaga keindahan dan kelenturan kulit.

Jilbab adalah kewajiban untuk setiap muslimah.

Krim-krim pelindung kulit pun tidak mampu melindungi kulit secara total dari sinar matahari. Sehingga dianjurkan untuk melindungi tubuh dengan jilbab.

Jilbab adalah kewajiban untuk setiap muslimah. Dan jilbab pun memiliki manfaat. Ternyata tak sekedar membawa manfaat ukhrawi namun banyak juga manfaat duniawinya. Jilbab tak hanya sekedar menjaga iman dan takwa pemakainya, namun juga membuat kulit terlindungi dari penyakit kanker dan proses penuaan.

Ternyata jilbab tak sekedar membawa manfaat ukhrawi namun banyak juga manfaat duniawinya.

Jilbab tak hanya sekedar menjaga iman dan takwa pemakainya, namun juga membuat kulit terlindungi dari penyakit kanker dan proses penuaan.

Demikianlah Allah memberi kasih sayangnya kepada wanita melalui syariat islam yang sempurna. (PurWD/Kaskus)

Kamis, 22 Desember 2011

Pendidikan Karakter: Berkaca dari Jepang


Para penggagas kebijakan pendidikan di Indonesia akhir-akhir ini gencar menggaungkan pendidikan karakter sebagai penawar masalah pendidikan kita yang dinilai telah salah arah. Selama masih menempuh pendidikan di Indonesia, hampir setiap tahun selalu ada penggantian kurikulum yang dikatakan kurikulum yang  lebih baik dari sebelumnya. Dengan memprioritaskan  pendidikan karakter, mereka berharap komunitas pendidik dan masyarakat akan menggali sisi afektif siswa, dan pendidikan tidak melulu ditekankan pada sisi kognitif untuk mengejar nilai semata. Dengan lebih memperhatikan karakter, diharapkan sekolah bisa menghasilkan lulusan yang berakhlak mulia, cerdas, dan kreatif.
Ketika gempa besar menghantam  bagian timur laut Jepang, dunia dibuat kagum dengan kekuatan mental masyarakat Jepang. Mereka menempatkan kepentingan umum  dan  keselamatan bersama jauh di atas kepentingan pribadi. Dalam keadaan genting sekali pun, malam setelah gempa, orang-orang yang mengungsi di salah satu sekolah dasar, bisa tetap mengantre dengan sabar untuk mendapatkan  makanan dalam  keadaan gelap gulita sekalipun. Kita juga sering mendengar tentang tertibnya budaya antre orang Jepang, baik dalam berbelanja di supermarket, membeli tiket, membayar tagihan, kisah dompet hilang yang selalu kembali, dan hal semacamnya.
Karakter mental dan kepribadian masyarakat Jepang itu tentu bukan datang begitu saja. Pendidikan dan sekolah memiliki peran besar di dalamnya, berjalan dinamis dengan tradisi dan nilai-nilai yang ditanamkan keluarga. Pembinaan karakter merupakan salah satu pilar utama pendidikan yang dilakukan sejak dini di Jepang. Houikuen atau setingkat penitipan anak merupakan yurisdiksi Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Jepang, sedangkan youchien atau TK, diawasi oleh Kementrian Pendidikan Jepang. Meski dilaksanakan oleh kementerian yang berbeda, aktivitas di dua jenis sekolah ini sama-sama ditekankan pada pengembangan kecerdasan sosial dan emosional, serta keseimbangan tubuh dan daya pikir.
Bersama dengan sekolah, keluarga merupakan faktor utama pengembangan karakter di Jepang. Kerja sama dan komunikasi antara pihak keluarga dan sekolah dilakukan sangat intensif melalui buku sekolah, surat elektronik, atau telepon. Saya pernah sekali berkesempatan untuk mengunjungi sebuah sekolah dasar (shougakkou) Nihon Matsu. Saya dan teman-teman, para mahasiswa asing disambut dengan upacara kecil. Upacara berjalan khidmat dan sederhana namun sangat berkesan. Tidak ada murid yang mengobrol atau bercanda dengan temannya. Mereka semua dengan serius mendengarkan seluruh isi upacara itu.
Lebih lanjut, saya menjadi semakin mengerti saat menonton berita dan drama Jepang "Marumo no Okite" yang berkisah tentang kisah seorang anak kembar yang ditinggal mati oleh ayahnya, dan pada akhirnya dirawat oleh salah  seorang teman  ayahnya. Pada upacara hari pertama masuk sekolah, para orangtua mengenakan pakaian  terbaiknya, dan mayoritas kedua orangtua datang bersama-sama. Meski orang Jepang terkenal sangat sibuk, mereka merasa "wajib" menghadiri upacara hari pertama sekolah putra-putri mereka. Hal ini menunjukkan perhatian orangtua terhadap pendidikan anak-anaknya serta komitmen  mereka terhadap budaya sekolah. Dari sinilah kerjasama, komunikasi serta harmoni antara sekolah dan keluarga demi pendidikan anak mulai terbangun. Orangtua juga dengan sukarela membuat sendiri, semacam  tas kecil yang berisi bekal makan siang, sejenis celemek untuk pelajaran memasak di sekolah, baju khusus untuk kegiatan souji (membersihkan kelas setelah pulang sekolah), dan keperluan sekolah lainnya.




Di TK, anak-anak menghabiskan waktu dengan beragam permainan yang ditujukan untuk menumbuhkan kepekaan sosial serta semangat kebersamaan, karakter yang kemudian kita lihat melekat pada bangsa Jepang. Guru-guru maupun siswa TK sering memperdengarkan yelyel seperti ‘tomodachi ni naro’ (mari berteman), ‘saigo made gambaru’ (berusaha sampai selesai), atau ‘kokoro kara otagai o tasukete mimashou’ (mari saling menolong dengan tulus). Seluruh aktivitas sekolah selalu dilakukan dengan semangat kebersamaan (tomodachi, shinsetsu, nakayoku), semangat kerja keras (gambaru), antusiasme (genki), dan tanggung jawab (jibun no koto o jibun de suru). Pada akhir pendidikan TK, ketika anak harus memberikan kesan singkat seusai menerima diploma, banyak dari mereka, bahkan hampir semuanya, akan berbicara tentang gambaru, tomodachi, dan jibun no koto o jibun de suru tersebut. Proses internalisasi hasil pendidikan karakter terlihat sangat jelas.
Pada tingkat sekolah menengah (chuugakkou) dan sekolah menengah atas (koukou) pola pendidikan serupa pun masih diterapkan, namun dengan cara yang berbeda. Pada murid diharapkan dapat dengan aktif memberikan pendapat atau jawaban mengenai suatu masalah umum yang diberikan oleh gurunya. Bahkan para murid pun dengan berani memberitahu yang benar apabila sang guru salah dalam memberi jawaban. Pada musim panas, sekitar pertengahan Agustus, setiap tahun juga diadakan Pertandingan Baseball (Yakyuu) yang diikuti oleh seluruh sekolah seantero Jepang. Melalui seleksi yang ketat, setiap prefektur diwakili oleh satu sekolah. Pada sekolah yang telah lolos akan diadu kembali dalam suatu Kejuaraan yang bernama Koushien, yang diadakan di Lapangan Koushien, di Kobe, Prefektur Hyougo. Mereka bertanding dengan sepenuh tenaga walaupun hari terik dan hujan turun. Teman-teman dan guru pun datang dari tempat yang jauh untuk mendukung tim yang bertanding. Setiap akhir pertandingan walaupun ada tim yang menang atau kalah, walaupun ada yang menangis ataupun tersenyum gembira, selalu diakhiri oleh pemberian hormat, dan saling bersalaman (rei). Disinilah salah satu bukti nyata pendidikan karakter Jepang. Para murid diajarkan untuk berusaha dengan keras dan bekerja sama dalam tim, tapi walaupun kalah ataupun gagal, mereka diajarkan untuk menerimanya dengan lapang dada, dan tidak berbuat curang. Satu hal yang sangat patut dicontoh.
Pendidikan karakter tidak bisa sekadar digaungkan di tengah kondisi masyarakat yang seolah sedang hidup di ruang kedap suara. Perlu kesepakatan bersama mengenai pentingnya pendidikan karakter sebelum langkah konkret dapat dilakukan. Memperhatikan dan membina karakter para pendidiknya juga merupakan langkah awal yang tidak dapat diabaikan. Langkah selanjutnya adalah keseriusan membenahi sistem pendidikan. Sistem pendidikan sekarang, yang memaksa sekolah mengejar angka semu melalui jalan pintas dengan mengabaikan proses pembinaan karakter siswa, perlu kita renungkan kembali. Jika pendidikan karakter benar-benar menjadi titik penting pendidikan bangsa, guru-guru tidak perlu lagi membocorkan soal sebelum ujian dimulai, dan para murid tak perlu lagi takut diusir warga sekampung hanya karena menolak praktik menyontek massal

Tiga prinsip mendidik di sekolah Jepang


Ada tiga kata penting yang sering di dengar ketika mendengarkan penjelasan guru-guru di Jepang saat kunjungan sekolah atau mengikuti seminar-seminar. Tiga kata itu adalah : `yutori kyouiku`(ゆとり教育),ikiru chikara (生きる力), dan kokoro kyouiku (心教育).
Yutori kyouiku artinya memberikan space dan waktu yang leluasa kepada anak untuk berkembang. Dengan prinsip ini, sekolah di Jepang yang semula libur hanya dua kali hari Sabtu setiap bulan, berubah menjadi 5 hari sekolah. Setiap Sabtu semua sekolah libur. Kebijakan ini pun menyebabkan 30% content pelajaran dipangkas, dan diperkenalkan course baru yaitu `Sougouteki gakusyuu jikan` (総合的学習時間)、integrated course, yang bertujuan untuk mempelajari materi yang lebih membumi. Mengapa demikian ? Karena siswa diajak untuk mengaplikasikan semua ilmu yang dipelajarinya di mata pelajaran yang lain untuk memahami fenomena alam, lingkungannya, kampungnya, dan orang-orang sekitarnya. Dengan kebijakan ini pula siswa hanya belajar materi pokok saja, sedangkan mata pelajaran yang sekunder disajikan dalam integrated course.
Yutori kyouiku mulai dipertanyakan keefektifannya saat ini karena merosotnya prestasi akademik siswa-siswa Jepang di tingkat international (PISA dan TIMMS). Orang tua pun khawatir. Karenanya tahun 2005 Kementrian Pendidikan mengeluarkan kebijakan penerapan `zenkoku gakuryoku tesuto` (全国学力テスト), yaitu test kemampuan akademik secara nasional.
Ikiru chikara artinya potensi atau kemampuan untuk hidup. Dalam bahasa kerennya disebut `zest of living`. Sekolah harus mendidik siswa yang siap berkembang, sehat jasmani, memiliki keinginan untuk hidup (ini mungkin karena banyak anak Jepang yang lebih suka bunuh diri), plus mempunyai semangat bekerjasama yang baik. Aplikasi dari prinsip ini, di sekolah-sekolah Jepang diperkenalkan kegiatan `bukatsudou` (club activities), semacam eskul di Indonesia, yang memungkinkan para siswa berkembang sesuai minatnya. Dampak negatif dari kegiatan ini, banyak siswa yang tertidur di kelas selama jam pelajaran karena kecapekan.
Kokoro kyouiku artinya pendidikan hati/kejiwaan. Anak Jepang harus bermental baja, tidak mudah putus asa, dan melakukan tindakan bunuh diri hanya karena diejek teman. Anak Jepang pun harus berkembang menjadi anak yang pemberani, dermawan, dan segala akhlak mulia lainnya. Bagaimana aplikasinya ? Di sekolah, guru harus memperhatikan kondisi satu per satu anak didik, membantu keterlambatan belajar mereka satu per satu, bekerjasama dengan orang tua. Dampak negatifnya : guru makin lama harus berada di sekolah, karena harus mengamati dan mendata plus mendiskusikan perkembangan anak didiknya dengan pejabat sekolah atau sesama guru.

Ta'aruf vs pacaran


Assalamualaikum, sekarang kita bahas tentang hal yang sudah ga asing lg yuu, yaitu "pacaran". Pacaran…? Hari gini gaa punya pacar? Helloooooowww…… :D

Di zaman globalisasi ini, sering kita sebagai muslim/muslimah dipertanyakan?
“punya pacar?”, “punya mantan berapa?”, “koleksi loe uda berapa?” ato mungkin “uda ngapain aja sama si ayank?" Betul gaa….?

Hyuuuh..hyuuhh… kita orang Indonesia yang dikenal sebagai bangsa Timur yaitu bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai malah lebih sering terlihat/mencerminkan seperti bangsa barat yang menganut paham liberalism (kebebasan). Apa pasal?

Bagi remaja, hidup di zaman millennium ini tuntutan gaul gg bisa terelakkan. Akan d’bilang aneh bin cupu, bahkan abnormal kalo gg gaul. Bahkan menjadi anak gaul kayaknya menjadi impian setiap remaja. Menyandang label anak gaul bisa bikin pede abis… ke sekolah serasa jadi bintang, ke mal serasa jadi pusat perhatian, jalan-jalan serasa jadi jadi raja jalanan :D :D Apa iya gaul yng seperti itu suatu keharusan..?

Kalo kita gg tau gossip terkini, d’cap gg up to date. Kalo kita gg pake baju super mini dan ketat, d’bilang norak. Kalo alis masih orisinil dan rambut gg d’cat, berarti kita gg ngikutin tren. Kalo gg nenteng HP keluaran terbaru d’bilang cupu atau bahkan GA GANDENG COWO/CEWE (truck gandeng kali yaaa) d’bilang cupu bin kuper. Kalo belum pernah makan burger atau pizza d’cap kuno. Entar lama-kelamaan, kalo kita seumur hidup gg pernah ngejabanin kafe, diskotik d’anggap manusia purba kali yaaa :D :D

Walhasil, gara-gara pengen dapet anak gaul, anak SD yang mau lulus malu kalo belum ngerokok. Yang SMP juga berlomba ngumpulin koleksi artis idolanya. Si putih abu-abu juga tengsin kalo masih nyandang predikat JOMBLO, akhirnya pake serbu satu jurus buat menarik perhatian lawan jenis. Yang uda jadi mahasiswa? Lebih-lebih... Malu kalo gg tau ngerasain yang nama kissing atau making love. Sebaliknya, malah merasa bangga dan gaul kalo uda “macem-macem” sama pasangan ilegalnya itu

Apa seperti itu gaul yang sehat? Apa Islam gg punya tuntunan dalam bergaul? Jawaban ADA, termasuk menyikapi rasa cinta. Rasa cinta itu memiliki makna yang luas, gg cuma mencakup cinta sesame lawan jenis ajh. Cinta terhadap diri sendiri (bukan egois), cinta terhadap orang tua, cinta terhadap sesama dan CINTA yang PALING HAKIKI adalah Cinta pada Dzat Yang Maha Kekal, Allah Subhana wa Ta’ala.

Inilah cintanya orang musyrik. Barangsiapa mencintai sesuatu sebagaimana ia mencintai Allah, yang ia lakukan bukan karena allah dan bukan karena mencari ridha-Nya, sesungguhnya ia telah menjadikan sesuatu sebagai tandingan Allah. Dan inilah kecintaan yang d’lakukan oleh orang-orang yang musyrik
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Al-Baqarah ayat 165)

Mereka mencintai selain Allah sama atau bahkan melebihi cinta mereka pada Allah. Kehidupan dunia lebih d’cintai daripada kehidupan akhirat. Mereka tertipu dan berada dalam kerugian.
Allah berfirman: “Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat dan bahwasannnya Allah tiada member petunjuk kepada kaum yang kafir.” (An Nahl ayat 107)

Lantas bagaimana dengan cinta terhadap lawan jenis? Apakah Islam melarangnya? Apa Islam punya solusi bagaimana mengatasi persoalan cinta? Jawabannya : Iya, Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur segala aspek kehidupan. Sejatinya, kita sebagai muslim menjadikan Islam as our way life….kenapa? karena semua sudah tertera dalam Al-Qur’an yaitu Firman Allah
“Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku ridhoi Islam sebagai agamamu” (Al-Maidah ayat 3)

Lantas bagaimana Islam mengatur soal cinta? Ada Firman Allah dalam surat Al-Imran ayat 14
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” Ada pula Firman Allah yang lain yaitu : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang." (Maryam ayat 96)

Jadi, cinta itu adalah fitrah. Jagalah ia jangan sampah jadi FITNAH. Jangan mentang-mentang cinta itu fitrah, kita jadikan alasan untuk bebas mencintai dan mengemas hubungan dgn pacaran. Bukan dengan alasan itu kemudian berdalih apa yang kita lakukan dalam pacaran adalah sebagai wujud dari sifat fitrah yang kita miliki. Pacaran d’identikan dengan bunga mawar, warna merah jambu, seabrek kado, perayaan hari jadian, jalan-jalan, SMS atau teleponan tiap hari, mojok dua-dua-duaan, perayaan valentine. Ooppss…masa kita sebagai Muslim uda pacaran bahkan ikut-ikutan budaya valentine..?

Katanya sih pacaran itu langkah awal mencari seseorang teman dekat dalam menuju proses pendewasaan kepribadian. Masa sih? Kepribadian yang dewasa gg ada hubungannya dgn pacaran. Orang yang pengalaman pacaran banyak gg menjamin memiliki kepribadian dewasa malah sebaliknya, gg sedikit gara-gara pacaran, kepribadian seseorang itu rapuh. Misalnya bgitu d’putusin pacar, gg sedikit yang lebih memilih bunuh diri? Apa itu orang yang memiliki kepribadian dewasa?

Pacaran juga sering d’anggap sebagai bentuk penjajakan untuk mendapatkan jodoh. Argumennya, sebelum mngambil keputusan menikah, ada baiknya “menguji” si calon itu tadi. Kalo memang pacaran untuk mncari jodoh, mestinya benar-benar yang punya pikiran matang donk yang melakukan? Tapi knp malah bnyak pelaku pacaran adalah pelajar ber-rok biru atau si rok abu-abu? Atau bahkan si bocah bau kencur ber-rok merah uda aktif dalam pacaran? Masya Allah…!!! Lantas apa tujuan pacaran? Apa karena punya rencana menikah? Jelas enggak! Jelas karena belum bisa menikah, mereka berpacaran. Semua syahwat yang d’larang (sebelum waktunya) oleh Islam justru mendapatkan penyaluran dlm pacaran. Mereka merasa bahwa pacaran itu membawa kebahagiaan dan kenikmatan, padahal mereka tercebur d’lautan dosa.
Ada pula yang menyebutkan untuk salig mengenal satu sama lain dan belajar untuk saling menyempurnakan, saling mngerti, saling berusaha mnjadi yg terbaik bagi pasangan, saling menasehati, saling melayani, saling membantu, saling bertumbuh keimanan pada Dia yang telah menciptakan pasangan yaitu Allah. Tentu kita akan terheran, sebelah mana pacaran dapat menumbuh keimanan? Apa dgn berdua-dua, berpegang tangan dan bhkan berhubungan intim? Naudzubillahi mindzalik. Saling melayani? Melayani dlm hal apa?

Ya, mereka memang saling melayani dlm berbuat maksiat dgn bersentuhan, berciuman bahkan bermesuman. Mungkin awalnya ereka hanya belajar bersama,makan bersama, berjalan bersama, hingga nantinya setan membisiki mereka untuk tidur bersama. Pacaran sendiri lebih menguntungkan pihak lelaki daripada perempuan. Lelaki bisa seenaknya merasakan tubuh wanita dgn alasan cinta. Ironisnya, si gadis juga merelakan bgitu saja tubuhnya d’sentuhi pacaranya krn janji akan d’nikahi. Hingga akhirnya hamil dan mengugurkan janinnya. Subhanallah, rentetan dosa telah terjadi.

Salam Izinkan Aku Menikah Tanpa Pacaran :-B

Prinsip-prinsip layanan anak berkebutuhan khusus

1.      Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.
Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu,tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat.
Banyak istilah yang dipergunakan sebagai variasi dari kebutuhan khusus, seperti disability, impairment, danHandicap. Menurut World Health Organization (WHO), definisi masing-masing istilah adalah sebagai berikut:
1.      Disability : keterbatasan atau kurangnya kemampuan (yang dihasilkan dari impairment) untuk menampilkan aktivitas sesuai dengan aturannya atau masih dalam batas normal, biasanya digunakan dalam level individu.
2.      Impairment: kehilangan atau ketidaknormalan dalam hal psikologis, atau struktur anatomi atau fungsinya, biasanya digunakan pada level organ.
3.      Handicap : Ketidak beruntungan individu yang dihasilkan dariimpairment atau disability yang membatasi atau menghambat pemenuhan peran yang normal pada individu.
 Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.






2.       Anggota-Anggota Tim Terkait Dalam Layanan Pendidikan Khusus

Dalam hal layanan pendidikan khusus tidak hanya faktor kebijakan saja yang menentukan tetapi juga tim work yang mendukung, berikut ini adalah komponen tim work :
    1. Guru pendidikan khusus adalah mereka yang memberikan pembelajaran sehari-hari dan dukungan lain bagi siswa berkebutuhan khusus.
    2. Billingual special educator adalah guru yang memiliki pengetahuan baik di bidang dwi bahasa maupun pendidikan khusus.
    3. Early childhood special educator adalah mereka yang memberikan pelayanan pada balita, mereka dapat bekerja sama dengan guru-guru pre sekolah dalam hal pendidikan umum.
    4. speech/ language pathologist adalah mereka yang mendiagnosis anak-anak berkebutuhan, mendesain tindakan dan layanan yang tepat serta memonitor kemajuannya.
    5. School psychologist adalah mereka yang memiliki kompetensi untuk menentukan kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus.
    6. School counselor adalah mereka yang menangani bukan saja siswa biasa tetapi juga siswa dengan kebutuhan khusus, pada sekolah regular.
    7. school social worker adalah mereka yang meng koordinasika usaha-usaha pendidik, keluarga dan orang-orag lembaga terkait untuk memastikan bahwa siswa dapat menerima semua pelayanan yang mereka  butuhkan.
    8. School  Nurse adalah mereka yang bertanggung jawab dalam memeriksa dan menjaga kesehatan siswa, serta mengatur distribusi obat-obatan yang dibutuhkan siswa.
    9. Educational interpreter adalah mereka yang membantu siswa yang mengalami kesulitan mendengar dengan menggunakan bahasa isyarat.
    10. General educational teacher adalah guru pada kelas regular yang memiliki kemampuan untuk untuk memeberikan pelayanan bagi anak berkebutuhan khusus.
    11. Pareducator adalah para profesinal yang bekerja di bawah arahan guru atau professional dalam memberikan pelayanan bagi siswa berkebutuhan khusus.
    12. Parents yaitu orang tua siswa yang memberikan kontribusi terhadap sekolah mengenai perkembangan serta kehidupn anaknya di luar sekolah.
    13. Additional High Specialized Service Provider adalah mereka yang memiliki keahlian spesifik di bidang tertentu guna menangani siswa yang membutuhkan pelayanan khusus secara unik.


3.      Prinsip Dasar layanan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
   Beberapa prinsip dasar dalam layanan anak berkebutuhan khusus pada umumnya yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan. Prinsip dasar tersebut menurut musjafak Assjari (1995) adalah sebagai berikut:
a.      Keseluruhan anak (all the chilldren )
Layanan pendidikan pada anak berkebutuhan khusus harus didasarkan pada pemberian kesempatan pada seluruh anak berkebutuhan khusus dari berbagai derajat, ragam, dan bentuk kecacatan yang ada. Dengan layanan pendidikan diharapkan anak dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya seoptimal mungkin, sehingga ia dapat mencapai hidup bahagia sesuai dengan kecacatannya. Oleh karena itu guru harus kreatif. Guru dituntut mencari berbagai pendekatan pembelajaran yang cocok bagi anak. Pendekatan tersebut harus disesuaiakan dengan keunikan dan karakteristik dari masing – masing kecatatan.
b.      Kenyataan (reality)
Pengungkapan tentang kemampuan fisik dan psikologis pada masing – masing anak berkebutuhan khusus mutlak dilakukan. Hal ini penting, mengingat melalui tahapan tersebut pelaksanaan pendidikan maupun pelaksanaan rehabilitasi dapat memberikan layanan yang sesuai dengan kemampuan yang dimilki oleh masing – masing anak berkebutuhan khusus. Dasar pendidikan yang menempatkan pada kemampuan masing – masing anak tunadaksa inilah yang dimaknai sebagai dasr yang berlandaskan pada kenyataan.
c.       Program yang dinamis (a dynamic program)
Pendidikan pada dasarnya bersifat dinamis. Pendidikan dikatakan dinamis karena yang menjadi subjek pendidika adalah manusia yang sedang tumbuh dan berkembang, yang di dalamnya terdapat proses yang bergradasi, berkesinambungan untuk mencapai sasaran pendidikan. Dinamika dlam proses pendidikan terjadi karena subjek didinya selalu berkembang, sehingga penyesuaian layanan harus memperhatikan perkembangan yang terjadi pada subjek didik. Dinamika juga terjadi karena perkembangan ilmu pengetahuan. Kedua kenyataan ini menuntut guru untuk mengkaji teori – teori pendidikan yang berkembang setiap saat. Memperhatikan kedua dinamika tersebut layanan pendidikan seharusnya memperhtikan karakteristik yang cukup hetergen pada anak dengan segala dinamikanya.


d.      Kesempatan yang sama (equality of opportunity)
Pada dasarnya anak berkebutuhan khusus diberi kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensinya tanpa memprioritaskan jenis – jenis kecacatan yang dialaminya. Titik perhatian yang utama pada anak berkebutuhan khusus adalah optimalisasi potensi yang dimiliki masing – masing anak melalui jenjang pendidikan yang ditempuhnya. Hal – hal yang besifat teknis berkaitan dengan sarana dan prasarana sekolah disesuiakan dengan kenyataan yang ada. Kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan menuntut penyelenggara pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus untuk menyediakan dan mengusahakan sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan kebutuhan anak dan variasi kecacatannya.
e.       Kerjasama (cooperative)
Pendidikan pada anak berkebutuhan khusus tidak akan berhasil mengembangkan potensi merekajika tidak melibatkan pihak – pihak yang terkait. Beberapa pihak terkait yang paling utama dalah orang tua. Orang tua anak berkebutuhan khusus perlu dilibatkan dalam merancang dan melaksanakan program pendidikan. Selain orang tua pihak lain.
Selain prinsip umum tersebut diatas, ada prinsip lain yang juga perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Prinsip – prinsip yang dimaksud ialah :
a.       Prinsip Kasih Sayang
Sebagai manusia, anak berkebutuhan khusus membutuhkan kasih sayang bukan belas kasihan.
Kasih sayang yang dimaksudkan merupakan wujud penghargaan bahwa sebagai manusia mereka memiliki kebutuhan untuk diterima dalam kelompok dan diakui bahwa mereka adalah sama seperti anak-anak yang lainnya. Untuk itu, guru sudah seharusnya mampu menggantikan kedudukan orangtua untuk memberikan perasaan kasih sayang kepada anak. Wujud pemberian kasih sayang dapat berupa sapaan, pemberian tugas sesuai dengan kemampuan anak, menghargai dan mengakui keberadaan anak.
b.      Prinsip keperagaan
Anak berkebutuhan khusus ada yang memiliki kecerdasan dibawah rata-rata. Keadaan ini berakibat anak mengalami kesulitan dalam menangkap informasi, ia memiliki keterbatasan daya tangkap pada hal-hal yang kongkret , ia mengalami kesulitan dalam menangkap hal-hal yang abstrak. Untuk itu, guru dalam membelajarkan anak hendaknya menggunakan alat peraga yang memadai agar anak terbantu dalam menangkap pesan. Alat-alat peraga hendaknya disesuaikan dengan bahan, suasana, dan perkembangan anak.
c.       Keterpaduan dan keserasian antar ranah
Dalam proses pembelajaran, ranah kognitif sering memperoleh sentuhan yang ebih banyak, sementara ranah afeksi dan psikomotor kadang terlupakan. Akibat yang terjadi dalam proses pembelajaran seperti ini terjadi kepincangan dan ketidak utuhan dalam memperoleh makna dari apa yang dipelajari. Keterpaduan dan keserasian antar ranah yang dirancang dan dikembangkan secara komprehensif oleh guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran mendorong terbentuknya kepribadian yang utuh pada diri anak. Untuk itu seyogyanya menciptakan media yang tepat untuk mengembangkan ketiga ranah tersebut.
d.      Pengembangan minat dan bakat
Proses pembelajaran pada anak berkebutuhan khusus pada dasarnya mengembangkan bakat dan minat mereka. Minat dan bakat masing-masing subyek didik mereka, baik dalam kuantitas maupun kualitasnya. Tugas guru dan orangtua adalah mengembangkan minat dan bakat yang terdapat pada diri anak masing-masing. Hal ini dilakukan karena minat dan bakat seseorang memberikan sumbangan dalam pencapaian keberhasilan. Oleh karena itu proses pembelajaran pada anak berkebutuhan khusus hendaknya didasarkan pada minat dan bakat yang mereka miliki.
e.       Kemampuan anak
Heterogenitas mewarnai kelas-kelas pendidikan pada anak berkebutuhan khusus, akibatnya masing-masing subyek didik perlu memperoleh perhatian dan layanan yang sesuai dengan kemampuannya.
f.       Model
Guru merupakan model bagi subyek didiknya. Perilaku guru akan ditiru oleh anak didiknya. Oleh karena itu guru perlu merancang secermat mungkin pembelajaran agar model yang ditampilkannya oleh guru dapat ditiru oleh anak.
g.      Pembiasaan
Penanaman pembiasaan pada anak normal lebih mudah bila dibarengi dengan informasi pendukungnya. Hal ini tidak mudah bagi anak berkebutuhan khusus. Pembiasaan pada anak berkebutuhan khusus harus dilakukan secara berulang-ulang dan diiringi dengan contoh kongkret.
h.      Latihan
Latihan merupakan cara yang sering ditempuh dalam pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Latihan sering dilakukan bersamaan dengan pembentukan pembiasaan.
i.        Pengulangan
Karakteristik umum anak berkebutuhan khusus adalah mudah lupa. Oleh karana itu, pengulangan dalam memberikan informasi perlu memperoleh perhatian tersendiri.
j.        Penguatan
Penguatan atau reinforcement merupakan tuntutan untuk membentuk perilaku pada anak. Pemberian penguatan yang tepat berupa pujian atau penghargaan yang lain terhadap munculnya perilaku yang dikehendaki anak akan membantu terbentuknya perilaku.


Selain prinsip umum, ada beberapa prinsip khusus yang perlu diperhatikan dalam layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Prinsip khusus tersebut berkaitan erat dengan kecacatan yang dialami anak. Prinsip khusus yang berkaitan dengan layanan pendidikan anak tunanetra menurut Annastasia Widjajanti dan Imanuel Hitipeuw (1995) adalah :
a.      Prisip totalitas
Prinsip totalitas berarti prisip keseluruhan atau keutuhan. Dalam prinsip ini guru mengajar harus secara keseluruhan atau utuh. Keseluruhan dimaksudkan bahwa dalam mengajarkan konsep sedapat mungkin melibatkan keseluruhan indera, sedangkan keutuhan dimaksudkan bahwa konsep yang dikenalkan harus utuh, tidak sepotong – potong. Misalnya, menjelaskan “tomat”, guru tidak hanya mengenalkan model tomat , tetapi juga harus menunjukkan tomat yang asli, anak disuruh meraba bentuk – bentuk tomat, mencium bau tomat, merasakan tomat, bahkan melengkapinya dengan pohon tomat.
b.      Prinsip Keperagaan
Prinsip keperagaan sangan dibutuhkan untuk menjelaskan konsep baru pada anak tunanetra. Prinsip keperagaan berkaitan erat dengan tipe belajar anak. Ada anak yang mudah menerima konsep melalui indera perabaan, ada anak yang mudah dengan indera pendengaran. Dengan peragaan anak akan terhindar dari verbalisme. Misalnya, guru menerangkan perbedaan antara apel dan tomat. Guru harus membawa kedua jenis buah tersebut. Anak harus dapat membedakan keduanya dari segi teksture (kasar halus, keras lembut), berat, rasa, dan baunya. Contoh lain misalnya guru menerangkan nyamuk , untuk suara mungkin dapat langsung, tetapi untuk bentuk guru harus mencari spesimen nyamuk, yang besarnya ratusan kali dari nyamuk yang sebenarnya.
c.       Prinsip Kesinambungan
Prinsip kesinambungan sangat dibutuhkan anak tunanetra dalam mempelajari konsep. Mata pelajaran yang satu harus berhubungan dengan mata pelajaran yang lain. Kesinambungan tersebut dalam hal materi dan istilah yang digunakan guru. Istilah yang digunakan sebaiknya tidak terlalu banyak variasi.
d.       Prinsip Aktivitas
Prinsip aktivitas penting artinya dalam kegiatan belajar anak. Murid dapat memberikan respon terhadap stimulus yang diberikan guru. Reaksi ini dilaksanakan dalam bentuk mengamati sendiri dengan bekerja sendiri. Anak tunanetra diharapkan aktif dan tidak hanya mendengarkan. Tanpa aktivitas , konsep yang diterima anak hanya sedikit dan mereka akan merasa jenuh. Jika anak aktif dalam pembelajaran, maka pengalaman mereka akan banyak, memperoleh kepuasan dalam belajar sehingga akan mendorong rasa ingin tahu yang tinngi.
e.       Prinsip individual
Prinsip individual dalam pembelajaran berarti pengajaran dilakukan dengan memperhatikan perbedaan individu, potensi anak, bakat dan kemampuan masing – masing anak. Prinsip ini merupakan ciri khusus dalam layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Bagi anak tunanetra, prinsip induvidual mendorong guru untuk memenuhi tuntutan variasi ketunaan dan kemampuan anak. Guru dituntut sabar, telaten, ulet dan kreatif. Guru harus mengajar satu per satu sesuai dengan perbedaan anak.