Senin, 19 Maret 2012

PEMBANGUNAN PERPUSTAKAAN UNTUK MENINGKATKAN BUDAYA MEMBACA DI DAERAH TERPENCIL


Untuk menjadi sebuah Negara yang maju, diperlukan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Generasi berkualitas, ialah sebuah generasi yang memiliki kreativitas tinggi dan minat baca yang tinggi pula. Dan tentu saja, kreativitas dan kemampuan, dapat di raih dengan cara meningkatkan budaya membaca.
Sebelumnya saya akan membahas mengenai social entrepreneur, karena disini saya akan menulis tentang harapan saya untuk menjadi seorang entrepreneur dengan membangun perpustakaan di daerah terpencil. Bagi disiplin ilmu ekonomi kata entrepreneur merupakan hal yang sudah mendarah daging karena sudah diperkenalkan dengan tokoh-tokohnya antara lain Richard Cantillon (1755), J.B. Say (1803) dan J.Schumpeter (1934). Cantillon menyatakan entrepreneur sebagai seseorang yang mengelola perusahaan atau usaha dengan mendasarkan pada akuntabilitas dalam menghadapi resiko yang terkait ( a person who undertakes and operates a new enterprise or venture and assumes some accountability for inherent risks); J.B.Say memberikan pengertian entrepreneur sebagai seseorang yang mampu meningkatkan nilai sumber daya ekonomi ke tingkatan yang lebih tinggi, baik produktivitasnya maupun nilainya ( a person who creates value by shifting economic resources out of an area of lower and into an area of higher productivity and greater yield), sedangkan Schumpeter mendefinisikan “unternehmer” atau entrepreneur sebagai an innovative force for economic progress, important in the process of creative destruction and therefore as a change agent.
Dari berbagai pengertian tersebut maka Social Entrepreneur sesungguhnya adalah agen perubahan (change agent) yang mampu untuk :
· Melaksanakan cita-cita mengubah dan memperbaiki nilai-nilai sosial
· Menemu kenali berbagai peluang untuk melakukan perbaikan
· Selalu melibatkan diri dalam proses inovasi, adaptasi, pembelajaran yang terus menerus
· Bertindak tanpa menghiraukan berbagai hambatan atau keterbatasan yang dihadapinya
·Memiliki akuntabilitas dalam mempertanggungjawabkan hasil yang dicapainya, kepada masyarakat.
Yang menggembirakan bahwa akhir-akhir ini adalah terjadinya pergeseran social entrepreneurship yang semula dianggap merupakan kegiatan ”non-profit (antara lain melalui kegiatan amal) menjadi kegiatan yang berorientasi bisnis (entrepreneurial private-sector business activities). Keberhasilan legendaris dari Grameen Bank dan Grameen Phone di Bangladesh adalah salah satu contoh terjadinya pergeseran orientasi dalam menjalankan program social entrepereneurship. Hal ini menjadi daya tarik bagi dunia bisnis untuk turut serta
dalam kegiatan social entrepreneurship, karena ternyata dapat menghasilkan keuntungan finansial.

PERANAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI

Social Entreprenuers makin berperan dalam pembangunan ekonomi karena ternyata mampu memberikan daya cipta nilai–nilai sosial maupun ekonomi, yakni :
1. Kesempatan Kerja
Manfaat ekonomi yang dirasakan dari Social Entrepreneurship di berbagai negara adalah penciptaan kesempatan kerja baru yang meningkat secara signifikan. Selain itu memberikan pula peluang kerja kepada penyandang cacat untuk dilibatkan dalam kegiatan produktif. Keberhasilan Muhammad Yunus antara lain adalah kemampuannya untuk memberdayakan 6 juta orang wanita menjadi kekuatan yang produktif secara ekonomi, membentuk phone-lady yang tersebar didesa-desa dan memberdayakan ribuan pengemis untuk melakukan kegiatan yang lebih produktif.
2. Inovasi dan Kreasi
Berbagai inovasi terhadap jasa kemasyarakatan yang selama ini tidak tertangani oleh pemerintah dapat dilakukan oleh kelompok Social Entrepereneurship seperti misalnya : penanggulangan HIV dan narkoba, pemberantasan buta huruf, kurang gizi. Seringkali standar pelayanan yang dilakukan pemerintah tidak mengena sasaran karena terlalu kaku mengikuti standar yang ditetapkan. Sedangkan Social Entrepreneurs mampu untuk mengatasinya karena memang dilakukan dengan penuh dedikasi. Menurut Bill Drayton (2006): social entrepreneurs need and deserve loyalty. Their work is not a job, it is their life.
3. Modal Sosial
Modal sosial merupakan bentuk yang paling penting dari berbagai modal yang dapat diciptakan oleh social entrepreneur karena walaupun dalam kemitraan ekonomi yang paling utama adalah nilai -nilai : saling pengertian (shared value), trust (kepercayaan) dan budaya kerjasama ( a culture of cooperation), kesemuanya ini adalah modal sosial. Keberhasilan negara Jerman dan Jepang adalah karena akar dari long-term relationship dan etika kerjasama yang mampu untuk menumbuhkan inovasi dan mengembangkan industri di negara masing-masing. Bank Dunia menyatakan pula bahwa permasalahan yang kritis dalam penanggulangan kemiskinan adalah modal sosial yang tidak memadai. Dibawah ini digambarkan virtous circle of social capital” yang diawali dengan penyertaan awal dari modal sosial oleh social entrepreneurs. Selanjutnya dibangun jaringan kepercayaan dan kerjasama yang makin meningkat sehingga dapat akses kepada pembangunan fisik, aspek keuangan dan sumber daya manusia. Pada saat unit usaha dibentuk (organizational capital) dan saat usaha sosial mulai menguntungkan maka makin
banyak sarana sosial dibangun.
4. Peningkatan Kesetaraan
Salah satu tujuan pembangunan ekonomi adalah terwujudnya kesetaraan dan pemerataan kesejahteraan masayarakat. Dan melalui social entrepreneurship tujuan tersebut akan dapat diwujudkan, karena para pelaku bisnis yang semula hanya memikirkan pencapaian keuntungan yang maksimal, selanjutnya akan tergerak pula untuk memikirkan pemerataan pendapatan agar dapat dilakukan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Contoh keberhasilan Grameen Bank
adalah salah satu bukti dari manfaat ini. Demikian pula upaya J.B.Schramm dari
Amerika Serikat yang telah membiayai ribuan pelajar dari keluarga tidak mampu
untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi.
Seorang relawan berhadapan pada dunia yang sedang berubah dengan pesat membuat mereka semakin paham, bukan hanya terhadap dunia, juga terhadap dirinya sendiri. Kepercayaan dan pandangan diri mereka cukup tinggi, mereka paham atas tanggung jawab juga haknya. Mereka ingin berkontribusi, dan mempunyai keinginan kuat untuk “dilihat”, “didengar” dan “diakui”. Mereka tidak ingin diperlakukan sebagai “warga kelas dua” dalam segala kegiatannya, apalagi dalam organisasi.
Mengapa saya mengambil tema perpustakaan di daerah terpencil? berikut ini akan saya uraikan beberapa alasan-alasan saya:
Perpustakaan memang telah mengalami perkembangan. Masyarakat perkotaan telah dapat menikmati perpustakaan secara baik, terlihat pada pembangunan perpustakaan di tiap sekolah, dan perpustakaan umum di masyarakat umum. Berbeda dengan masyarakat pedesaan yang belum tersentuh dengan pembangunan perpustakaan. Sehingga masyarakat pedesaan masih banyak yang mengalami buta aksara. Akibatnya budaya membaca di pedesaan semakin berkurang. Maka diperlukan peranan pemerintah dalam membangun dan mengelola perpustakaan mini sebagai sarana untuk masyarakat pedesaan yang ingin menikmati pentingnya menimba ilmu melalui membaca buku.
Masyarakat pedesaan cenderung lebih memilih untuk langsung ’bekerja’, dibandingkan harus menimba ilmu di bangku sekolah. Hal tersebut juga menyebabkan budaya membaca di daerah pedesaan semakin berkurang.
Adapun kecenderungan masyarakat pedesaan yang lebih memilih untuk langsung ’bekerja’dibandingkan dengan menimba ilmu di bangku sekolah, disebabkan oleh beberapa hal, antara
lain :
1. Pola pikir masyarakat pedesaan yang masih rendah.
Masyarakat pedesaan memiliki pola pikir, bahwa pendidikan merupakan suatu hal yang tidak terlalu penting, sedangkan bekerja merupakan suatu hal yang sangat penting, karena dengan bekerja, akan langsung memperoleh hasil, tanpa harus membuang – buag waktu untuk bersekolah. Masyarakat pedesaan, hanya berpikir untuk jangka pendek, tak memikirkan bahwa menimba ilmu di bangku sekolah berguna untuk jangka panjang. Hal ini disebabkan karena kurangnya informasi tentang pendidikan yang diperoleh oleh
masyarakat pedesaan.
·     2. Kemauan
Seseorang yang ingin menimba ilmu di bangku sekolah, haruslah memiliki kemauan yang besar. Berbeda dengan kemauan masyarakat pedesaan, yang tidak terlalu menganggap bahwa pendidikan itu penting, dan hanya berpikir untuk jangka pendek saja. 
3. Pengaruh Lingkungan
Hal ini sangat berpengaruh terhadap kemauan seseorang untuk bersekolah. Contohnya saja, jika seorang anak yang kedua orang tuanya petani, pasti akan terpengaruh, dan kemauannya untuk bersekolah pun terpengaruh. Dia akan memilih untuk ikut kedua orangtuanya menjadi petani, dibandingkan harus bersekolah dan membuang – buang uangnya untuk sesuatu yang tidak terlalu berguna bagi dia.
·      4. Masalah biaya
Untuk bersekolah diperlukan biaya yang cukup besar. Masyarakat pedesaan akan memperhitungkan lagi, jika harus mengeluarkan uangnya untuk bersekolah. Mereka akan memilih untuk langsung bekerja saja, tanpa harus mengeluarkan uang yang banyak. Oleh karena itu, pengembangan perpustakaan harusnya tidak hanya berhenti pada daerah perkotaan, tetapi sampai pada daerah pedesaan yang sangat terpencil. 
Budaya membaca dapat difasilitasi oleh Perpustakaan. Perpustakaan umum memilki sangat banyak fungsi, diantaranya :
1. Perpustakaan Umum sebagai tempat pembelajaran seumur hidup (life-long learning). Perpustakaan Umumlah tempat dimana semua lapisan masyarakat dari segala umur, dari balita sampai usia lanjut bisa terus belajar tanpa dibatasi usia dan ruang-ruang kelas.
2. Perpustakaan Umum sebagai katalisator perubahan budaya. Perubahan perilaku masyarakat pada hakikatnya adalah perubahan budaya masyarakat. Perpustakaan Umum merupakan tempat strategis untuk mempromosikan segala perilaku yang meningkatkan produktifitas masyarakat. Individu komunitas yang berpengetahuan akan membentuk kelompok komunitas berpengatahuan. Perubahan pada tingkat individu akan membawa perubahan pada tingkat masyarakat.
3. Perpustakaan Umum sebagai agen perubahan sosial. Idealnya, Perpustakaan Umum adalah tempat dimana segala lapisan masyarakat bisa bertemu dan berdiskusi tanpa dibatasi prasangka agama, ras, kepangkatan, strata, kesukuan, golongan, dan lain-lain.
4. Perpustakaan Umum sebagai jembatan komunikasi antara masyarakat dan pemerintah.

SMART SOLUTION DALAM PEMBANGUNAN PERPUSTAKAAN UMUM DI MASYARAKAT PEDESAAN

Perpustakaan merupakan sarana untuk menambah wawasan dan informasi. Setiap warga indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga tercipta generasi bangsa yang berkualitas. Sebaiknya pemerintah memiliki kepedulian terhadap pentingnya melestarikan budaya membaca. Adapun beberapa langkah yang dapat ditempuh pemerintah, antara lain :
1. Pemerintah sebaiknya melakukan penyuluhan ke daerah – daerah yang dianggap terpencil. Pada penyuluhan tersebut, diberikan informasi tentang pentingnya budaya membaca di semua kalangan masyarakat.
2. Agar terwujud masyarakat yang cinta membaca, maka diperlukan kerja sama yang baik antara pemerintah dan masyarakat sehingga tercipta perpustakaan sebagai sumber belajar bagi masyarakat.
3. Pentingnya pemerintah memberikan anggaran terhadap pembangunan perpustakaan didaerah terpencil. Sehingga perpustakaan dapat berkembang tanpa terhambat masalah dana. Karena masalah yang menghambat berkembangnya perpustakaan sampai sekarang ini ialah kurangnya dana yang dimiliki oleh perpustakaan dan sedikitnya subsidi yang diberikan oleh pemerintah
Pembangunan ekonomi seharusnya ditujukan untuk memberdayakan manusia (people empowerement) agar dapat mengembangkan Social Entrepreneurship termasuk pengembangan entrepreneurship dalam arti luas. Kebijakan pemerintah seharusnya ditujukan untuk mengurangi hambatan-hambatan birokrasi yang mengarah kepada menurunnya kegiatan social entrepreneurship. Berbagai tantangan yang dihadapi oleh Social Entrepreuners antara lain adalah masalah pendanaan, pendidikan untuk para pemimpin dimasa mendatang yang menyadari tentang pentingnya social entrpreneurship , dan kurangnya insentif yang diberikan oleh pemerintah untuk meringankan beban lembaga-lembaga yang bergerak dibidang sosial. Oleh karena itu Social Entrepreneurs harus didukung oleh Social Investor agar inovasinya dapat diwujudkan. Hendaknya disadari bahwa Social Entrepreneurship bukanlah satu-satunya obat untuk mengatasi permasalahan sosial yang dihadapi, karena dalam kenyataannya sangat dipengaruhi oleh kerangka dan struktur perekonomian yang berlaku di suatu negara. Namun seyogyanya harusada keberanian untuk mulai membentuk change makers sehingga setiap individu harus diupayakan untuk dapat menjadi change maker di lingkunganya.

Dengan dilakukannya pembangunan perpustakaan terhadap daerah terpencil, akan menambah minat baca dari masyarakat pedesaan yang cenderung lebih kurang minta bacanya. Sumber daya manusia akan dapat tercipta dengan baik apabila pemerintah peduli akan pentingnya budaya membaca di seluruh lapisan masyarakat. Generasi muda akan memperoleh informasi – informasi sehingga menambah kemampuan mereka dalam bidang tertentu. Harapan saya, dengan solusi sederhana yang saya berikan dapat menjadi bahan kajian terhadap pemerintah untuk mewujudkan pembangunan perpustakaan dimasyarakat pedesaan. Sehingga terwujud budaya membaca di seluruh lapisan Masyarakat. Dan perpustakaan tidak akan kehilangan fungsinya sebagai sumber belajar masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar